Translate

Sunday, July 26, 2026

Apa itu RAID? Penjelasan Lengkap Teknologi RAID pada Penyimpanan Data dalam Hardisk

Pengertian RAID dan Macam Jenis Level Teknologi RAID Harddisk Server



RAID atau yang merupakan singkatan dari Redundant Array Of Independent Disk yang meuruju pada suatu technology di dalam suatu penyimpanan data pada komputer yang di pakai untuk melakukan implemenatasi aplikasi atau fitur toleransi kesalahan di media penyimpanan computer terutama pada hard disk dengan memakai cara redundansi atau penumpukkan data, baik itu dengan memakai software atau perangkat lunak, maupun unik perangkat keras RAID atau hard RAID yang terpisah.

RAID adalah organisasi disk memory yang dapat mengatasi sejumlah disk dengan system akses nya parallel dan redundansi di tambah kan untuk memberikan peningkatan reliabilitas. Kerja parallel ini memberikan hasil resultan kelajuan disk yang akan lebih cepat.


RAID memiliki sebanyak 3 karakteristik umum, dan ketiga karakteristik umum tersebut itu ialah:

  • Data nya di distribusikan pada drive fisik array
  • RAID merupakan sekumpulan dist drive yang di klaim sebagai system tunggal pada disk
  • Kapasitas redundant disk di pakai untuk menyimpan informasi paritas, yang sudah menjamin recoverability data pada saat terjadi kegagalan disk atau terjadi suatu masalah.

Jadi, Pengertian RAID adalah suatu jawaban dari masalah kesenjangan kelajuan disk memory dengan CPU dengan cara nya yang mengganti kan disk yang memiliki kapasitas besar dengan beberapa disk disk yag memiliki kapasitas kecil dan juga mendistribusi kan data di disk disk tersebut dengan sedemikian rupa, maka dari itu di kemudian waktu bisa di baca ulang.

Sejarah RAID

Penggunaan istilah RAID pertama kali diperkenalkan oleh David A. Patterson, Garth A. Gibson dan Randy Katz dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat pada tahun 1987. Tetapi walaupun mereka yang menggunakan istilah RAID pertama kali, tetapi hak paten RAID sejatinya dimiliki oleh Norman Ken Ouchi dari IBM, yang pada tahun 1978 mendapatkan paten nomor 092732 dengan judul “System for recovering data stored in failed memory unit”.

Level – level strandart Raid

RAID bisa dibagi menjadi 8 level yang berlainan, level level tersebut ialah level 0, level 1, level 2, level 3, level 4, level, 5, level 6, level 0 + 1 dan juga level 1 +0. Disetiap level nya tersebut mempunyai kekurangan dan juga kelebihan. Seperti salah satu nya ialah sebagai berikut:

RAID 0


Raid pada level 0 ini memakai sekumpulan disk dengan striping di level biok, tanpda adanya redundansi. Maka dari itu ia hanya menyimpan dan melakukan striping blok data di dalam sejumlah disk. Level 0 ini sesungguh nya tidak termasuk di dalam kelompok RAID, hal ini di karenakan level 0 tidak memakai redundansi dalam peningkatan kinerja nya tersebut

RAID 0 (atau yang disebut juga dengan stripe set atau striped volume), data akan disimpan terpisah secara merata ke dua hardisk atau lebih, tanpa informasi parity untuk meningkatkan kecepatan. Parity data di RAID digunakan untuk memeriksa error hardisk & mendapatkan redundansi data. Jika ada hardisk yang rusak, secara otomatis RAID akan melakukan rekonstruksi data pada hardisk yang baru.
Nah, pada RAID 0, parity data tidak ada, sehingga jika ada hardisk yang rusak, maka secara otomatis data akan rusak. Tidak ada redundansi/kehandalan data di level RAID 0. Pada umumnya, RAID 0 digunakan untuk meningkatkan performa baca/tulis saja, atau untuk memperbesar kapasitas simpan, tanpa mementingkan redundansi data.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dengan RAID 0, kecepatan I/O hardisk akan meningkat karena kinerja baca/tulis dikerjakan bersama-sama. Dengan 3 hardisk SATA 7200 rpm, anda akan memiliki performa setara 3 x 7200 rpm = 21600 rpm.
Dengan RAID 0, 3 x 1 TB hardisk = 3 TB hardisk!

RAID 1 


RAID level 1 adalah disk mirroring, memalsukan atau menduplikat di masing masing disk. Langkah langkah ini bisa memberikan peningkatan terhadap kinerja disk, namun jumlah disk yang di perlukan juga berubah menjadi 2 kali lipat. Maka dari itu dana nya menjadi sangat lah mahal.

Dengan RAID 1, data di hardisk pertama akan di salin (mirroring) persis sama ke hardisk kedua. Jika anda lebih mementingkan performa baca & kehandalan data, ketimbang simpan, maka RAID 1 adalah pilihan yang pas.

Pada RAID 1, jika pada salah satu hardisk terjadi kerusakan, maka data akan tetap aman karena sudah tersalin di hardisk kedua. Jika hardisk yang rusak mendapatkan ganti, maka secara otomatis RAID 1 akan melakukan salinan/mirorring ke hardisk yang baru.

2 Hardisk yang diatur dengan RAID 1, total kapasitasnya hanya seperti memiliki 1 hardisk saja. Jadi semisal 2 x 1 TB hardisk dengan RAID 1, maka kapasitas simpan yang bisa dipakai adalah 1 TB saja.

Kecepatan baca/tulis pada RAID 1 cukup bagus, walau tidak setinggi performa pada RAID 0. Kekurangan RAID 1 hanyalah pada kapasitas simpan saja.

RAID 5



RAID Level 5 ini adalah suatu pengorganisasian dengan paritas blok interleaved yang tersebar. Paritas dan juga data yang di sebar di seluruh disk termasuk pada suatu disk tambahan nya.

RAID 5 menggunakan metode block-level striping dengan data parity didistribusikan ke semua hardisk. RAID 5 cukup populer karena mampu menghadirkan redundansi data dengan biaya yang tidak terlalu besar.

RAID 5 memiliki toleransi kerusakan disk hanya satu saja, sama seperti RAID 1. Jadi, jika anda menggunakan 3 x 1TB hardisk, maka kapasitas simpan yang bisa digunakan adalah 2 TB saja, karena 1 TB lainnya digunakan untuk toleransi kerusakan.

RAID 5 memiliki performa baca dua kali lipat lebih cepat, tetapi tidak ada peningkatan pada performa tulis. RAID level ini dianjurkan untuk penyimpanan.

RAID 6 



Untuk RAID Level 6 ini dinamai juga dengan redundansi p + q, seperti hal nya pada RAID level 5, namun menyimpan sebuah informasi redundan tambahan yang nantinya berguna untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan dari sejumlah disk secara bersamaan.

RAID 6 sejatinya hampir sama dengan RAID 5, yang membedakan cuma penambahan parity block. Jika pada RAID 5 toleransi kerusakan disk hanya satu, pada RAID 6 memiliki 2 disk. Dengan penambahan ekstra parity block, maka redundansi data lebih bagus ketimbang RAID 5.

Performa baca/tulis tidak ada beda dengan RAID 5. Level RAID 6 biasanya dianjurkan untuk solusi HA (High Availability), Mission Critical Apps, dan server yang membutuhkan kapasitas simpan yang besar).

RAID 10 



RAID 10 biasa juga disebut dengan RAID 1+0 atau RAID 1&0, mirip dengan RAID 0+1, cuma perbedaanya adalah penggunaan level RAIDnya dibalik.

RAID 10 sebenarnya bukan level standar RAID yang diciptakan untuk driver Linux MD. RAID 10 membutuhkan minimal 4 buah hardisk.

RAID 10 adalah kombinasi antara RAID 0 (data striping) dan RAID 1 (mirroring). Memiliki performa baca/tulis & redundansi data tertinggi (memiliki toleransi kerusakan hingga beberapa hardisk).

RAID 10 memiliki toleransi kerusakan 1 hardisk per mirror stripe.

RAID 10 biasanya banyak diimplementasikan pada database, web server & server aplikasi atau server-server yang membutuhkan performa hardisk tinggi.

RAID 50 



RAID 50 (atau juga disebut dengan RAID 5+0) merupakan kombinasi block-level striping dari RAID 0 dengan distribusi parity dari RAID 5. RAID 50 membutuhkan minimal 6 hardisk.

Jika salah satu hardisk dari masing-masing RAID 5 ada yang rusak, data akan tetap aman. Akan tetapi jika hardisk yang rusak tidak segera diganti, dan hardisk dari RAID 5 tersebut ada yang rusak lagi, maka semua data di RAID 50 akan rusak. Penggantian hardisk harus dilakukan agar data tetap terjaga redundansinya.

RAID 50 memilik toleransi kerusakan 1 hardisk per sub-array. Seperti halnya RAID 10, RAID 50 juga memiliki performa baca/tulis & redundansi data tinggi (memiliki toleransi kerusakan hingga beberapa hardisk).

RAID 50 biasanya banyak di implementasikan pada server database, server aplikasi, dan server penyimpanan file.

RAID 60



RAID 60 (atau juga disebut dengan RAID 6+0) merupakan kombinasi block-level striping dari RAID 0 dengan distribusi parity dari RAID 6. RAID 60 membutuhkan minimal 8 hardisk.

RAID 50 dan RAID 60 tidak banyak perbedaan, yang membedakan hanya pada toleransi kerusakan hardisk. Jika pada RAID 50 toleransi kerusakannya 1 hardisk per sub-array, sedang di RAID 60 adalah 2 hardisk per sub-array.

RAID 60 biasanya banyak di implementasikan pada solusi High Availability, Mission Critical Apps,atau server yang membutuhkan kapasitas simpan besar.


Selain dari Teknologi RAID yang telah di jelaskan di atas sebenarnya masih ada lagi cuma Teknologi RAID yang di bawah ini sudah banyak tidak di gunakan 


RAID level 2
RAID level 2 ini adalah pengorganisasian dengan error – correcting – code (ECC). Seperti di memory server EEC yang di mana pendeteksian titik terjadinya error memakai paritas bit. Di masingn masing byte data memiliki suatu paritas yang bersesuaian yang merepresentasi kan jumlah bit pada byte data tersebut, yang dimana paritas bit = 0 apabila jumlah bit parasite = 1 atau ganjil atau parasitas bit=0 genap.

Jadi apabila salah satu dari bit di data berubah, parasitas berubah dan tidak cocok dengan parasitas bit yang sudah tersave atau tersimpan. Dengan begitu, jika terjadi suatu masalah atau kegagalan di salah satu disk, data bisa di bentuk ulang dengan mendeteksi atau reading error – correction bit di disk yang lain nya.

RAID LEVEL 3
RAID LEVEL 3 adalah suatu pengorganisasian dengan paritas bit interleaved. Dalam pengorganisasian level ini hampir sama hal nya dengan RAID level 2, hanya saja pada RAID Level 3 ini membutuhkan suatu disk redundan, seberapa pun banyak atau jumlah dari kumpulan disk nya.

RAID Level 4
RAID Level 4 ini adalah suatu pengorganisasian dengan paritas blok interleaved, yakni memakai striping data di level blok, dengan mengesave atau menyimpan suatu paritas blok di suatu disk yang berlainan untuk masing masing blok data di disk lain yang saling bersesuaian.


Sekian Penjelasanya, Semoga Bermanfaat ya.... 













Thursday, July 23, 2026

5 Keamanan Jaringan (Contoh Penerapan Firewall dalam Jaringan Komputer)

Pada penjelasan ini akan di coba menerapkan firewall pada jaringan komputer seperti pada konfigurasi seperti pada gambar di bawah ini 




Pada Konfigurasi diatas terdapat sebuah server dengan alamat IP 192.168.100.2, netmask 255.255.255.0 dan gateway 192.168.100.1. server ini terhubung dengan tiga buah Client yang masing – masing mempunyai alamat IP 172.10.10.2, 172.10.10.3, 172.172.1.2. untuk mencoba menerapkan fungsi Firewall di antara server dan computer Client diletakkan sebuah computer ber system operasi LINUX yang memiliki software “iptables” yang digunakan sebagai Firewall itu sendiri. Beberapa metode firewall yang akan dicoba adalah sebagai berikut :

A. Memblokir Protokol ICMP (ping)

Firewall untuk memblokir ICMP(Ping) dari Client beralamat 172.172.1.2  menuju Firewall

Pada Hal ini, berikan aturan untuk memblokir protocol ICMP (yang digunakan untuk melakukan ping) dengan mengetikkan perintah:

# iptables -A INPUT -s 172.172.1.2 -p icmp -j DROP


Perintah diatas akan menolak paket protokol ICMP yang datang dari alamat IP 172.172.1.2  yang menuju ke semua alamat IP Firewall.

Hasil Ping Komputer yang tidak di blok 

Hasil ping komputer yang di blok




Selain itu, anda dapat memberikan aturan pemblokiran lain seperti:

# iptables -A INPUT -s 172.172.0.0/16 -p icmp -j DROP
(Menolak paket protocol ICMP yang datang dari semua alamat jaringan 172.172.0.0 yang menuju ke semua alamat IP Firewall)

# iptables -A FORWARD -s 172.172.0.0/16 -p icmp -j DROP
(Menolak paket protocol ICMP yang datang dari semua alamat jaringan 172.172.0.0 yang menuju ke alamat IP server

B. Memblokir Protokol TCP untuk akses File Transfer Protocol (FTP)

Untuk memblokir protocol TCP (akses FTP), harus menggunakan alamat port yang disediakan. Cara melihat port FTP pada linux, adalah dengan cara masuk terlebih dahulu ke terminal, lalu ketikkan:

cd /etc (klik enter)
vi services (klik enter)

Untuk kasus ini, Port yang digunakan adalah port 21.

Jenis Port yang terdapat pada /etc/sevices



Firewall untuk memblokir akses FTP dari client dengan IP Address 172.10.10.3 menuju Server melalui port 21 dengan protocol TCP

iptables -A FORWARD -s 172.10.10.3 -p tcp --dport 21 -j DROP

Perintah lptables untuk memblokir akses FTP ke server

Tampilan Client yang tidak di ijinkan akses FTP

Tampilan Client yang di ijinkan akses ftp





C. Memblokir protocol TCP untuk akses Hyper Text Transfer Protocol (HTTP)

Firewall untuk memblokir akses Web Server dari client dengan IP Address 172.10.10.3 menuju Server melalui port 80 dengan protocol TCP

iptables -A FORWARD -s 172.10.10.3 -p tcp –dport 80 -j DROP

Perintah iptables untuk memblokir sebuah website 

Tampilan pada client yang tidak di izinkan akses web 


tampilan client yang di ijinkan akses web




D. Memblokir protocol TCP untuk akses Remote Protocol

Akses remote protocol sangat berbahaya bagi keamanan sistem, dimana client yang menggunakan salah satu software remote (mis: putty pada Windows, SSH pada Linux), dapat mengakses firewall maupun server dari jarak jauh jika client tersebut mengetahui alamat IP dari Firewall atau server. Software ini berjalan pada protocol TCP pada port 22 (SSH).
Firewall untuk memblokir akses Remote dari client dengan IP Address 172.10.10.3 menuju Server melalui port 80 dengan protocol TCP
iptables -A FORWARD -s 172.10.10.3 -p tcp –dport 22 -j DROP

perintah iptables untuk memblokir akses remote

tampilan client yang akses remote nya ke server tidak di ijinkan 

tampilan client yang di ijinkan




Pada Gambar , terlihat bahwa client yang berhasil masuk ke komputer server dapat melihat dan merubah semua isi directory komputer server

Selain itu, untuk memblokir akses remote ke firewall, dapat dilakukan dengan membuat aturan:

iptables -A INPUT -s 172.10.10.3 -p tcp --dport 22 -j DROP

Blokir protokol remote ke firewall


blokir protokol remote ke firewall

tampilan client yang akses remotenya tidak di izinkan 

tampilan yang di ijinkan

Pada Gambar di atas, terlihat bahwa client yang berhasil masuk ke firewall dapat melihat dan merubah semua isi directory Firewall



Selanjutnya 

PERCOBAAN KE 2 JOBSHEET PRAKTIKUM FIREWALL








Wednesday, July 22, 2026

5 Keamanan Jaringan (JOB SHEET PRAKTIKUM FIREWALL)

KONFIGURASI FIREWALL
[IPTABLES]  

TUJUAN PEMBELAJARAN:
1.      Mengenalkan pada mahasiswa tentang konsep dasar firewall
2.      Mahasiswa mampu melakukan proses filtering menggunakan iptables 

DASAR TEORI

Firewall adalah sistem atau sekelompok sistem yang menetapkan kebijakan kendali akses antara dua jaringan. Secara prinsip, firewall dapat dianggap sebagai sepasang mekanisme : yang pertama memblok lalu lintas, yang kedua mengijinkan lalu lintas jaringan. Firewall dapat digunakan untuk melindungi jaringan anda dari serangan jaringan oleh pihak luar, namun firewall tidak dapat melindungi dari serangan yang tidak melalui firewall dan serangan dari seseorang yang berada di dalam jaringan anda, serta firewall tidak dapat melindungi anda dari program-program aplikasi yang ditulis dengan buruk. 
Secara umum, firewall biasanya menjalankan fungsi: 
ƒ  Analisa dan filter paket 
Data yang dikomunikasikan lewat protokol di internet, dibagi atas paket-paket. Firewall dapat menganalisa paket ini, kemudian memperlakukannya sesuai kondisi tertentu. Misal, jika ada paket a maka akan dilakukan b. Untuk filter paket, dapat dilakukan di Linux tanpa program tambahan. 
ƒ  Bloking isi dan protokol 
Firewall dapat melakukan bloking terhadap isi paket, misalnya berisi applet Jave, ActiveX, VBScript, Cookie. 
ƒ  Autentikasi koneksi dan enkripsi 
Firewall umumnya memiliki kemampuan untuk  menjalankan enkripsi dalam autentikasi identitas user, integritas dari satu session, dan melapisi transfer data dari intipan pihak lain. Enkripsi yang dimaksud termasuk DES, Triple DES, SSL, IPSEC, SHA, MD5, BlowFish, IDEA dan sebagainya. 

Secara konseptual, terdapat dua macam firewall yaitu :
ƒ  Network level 
Firewall network level mendasarkan keputusan mereka pada alamat sumber, alamat tujuan dan port yang terdapat dalam setiap paket IP. Network level firewall sangat cepat dan sangat transparan bagi pemakai. Application level firewall biasanya adalah host yang berjalan sebagai proxy server, yang tidak mengijinkan lalu lintas antar jaringan, dan melakukan logging dan auditing lalu lintas yang melaluinya ƒ Application level.
Application level firewall menyediakan laporan audit yang lebih rinci dan cenderung lebih memaksakan model keamanan yang lebih konservatif daripada network level firewall.
Firewall ini bisa dikatakan sebagai jembatan. Application-Proxy Firewall biasanya berupa program khusus, misal squid.

Firewall IPTables packet filtering memiliki tiga aturan (policy), yaitu:
a.      INPUT
Mengatur paket data yang memasuki firewall dari arah intranet maupun internet. kita bisa mengelola komputer mana saja yang bisa mengakses firewall. misal: hanya komputer IP 192.168.1.100 yang bisa SSH ke firewall dan yang lain tidak boleh.
b.      OUTPUT
Mengatur paket data yang keluar dari firewall ke arah intranet maupun internet. Biasanya output tidak diset, karena bisa membatasi kemampuan firewall itu sendiri.
c.       FORWARD
Mengatur paket data yang melintasi firewall dari arah internet ke intranet maupun sebaliknya. Policy forward paling banyak dipakai saat ini untuk mengatur koneksi internet berdasarkan port, mac address dan alamat IP. 

Selain aturan (policy) firewall iptables juga mempunyai parameter yang disebut dengan TARGET, yaitu status yang menentukkan koneksi di iptables diizinkan lewat atau tidak. TARGET ada tiga macam yaitu:
a.      ACCEPT
Akses diterima dan diizinkan melewati firewall
b.      REJECT
Akses ditolak, koneksi dari komputer klien yang melewati firewall langsung terputus, biasanya terdapat pesan "Connection Refused". Target Reject tidak menghabiskan bandwidth internet karena akses langsung ditolak, hal ini berbeda dengan DROP.
c.       DROP
Akses diterima tetapi paket data langsung dibuang oleh kernel, sehingga pengguna tidak mengetahui kalau koneksinya dibatasi oleh firewall, pengguna melihat seakan - akan server yang dihubungi mengalami permasalahan teknis. Pada koneksi internet yang sibuk dengan trafik tinggi Target Drop sebaiknya jangan digunakan.
  

TUGAS PENDAHULUAN

1.      Sebutkan dan jelaskan dengan singkat apa yang disebut dengan konsep firewall ?
2.      Sebutkan fasilitas iptables yang ada di linux !
3.      Jelaskan perbedaan mangle, nat dan filter dari iptables ?


PERCOBAAN

1.       Bangun desain jaringan sebagai berikut :




Note :
10.10.xx.yy  => xx (1-10) utk nomor kelompok praktikum, yy (1-254) untuk no client        192.168.50.x => gunakan dhclient utk mendapat IP dari server

2.       Setting komputer sebagai router (PC1) sbb :
a. Setting ip_forward  #echo 1 >  /proc/sys/net/ipv4/ip_forward 
b. Setting menggunakan NAT 
          Format penulisan : # iptables –t nat –A POSTROUTING –o eth0 –s IP_number -d 0/0  -j MASQUERADE 
          # iptables –t nat –A POSTROUTING –o eth0 –j MASQUERADE
NB : untuk mengetahui sudah terinstall : # iptables –t nat -nL c.   Setting IP
          eth0 Æ192.168.50.x Mask:255.255.255.0 
          eth0:1 Æ10.10.1.1 Mask:255.255.255.0  (utk kelompok 1)
                  d.     Setting Routing, diambil dari no IP router server
Format : # route add default gw <no_IP_GW> # route add default gw 192.168.50.1  

3.       Setting komputer client sbb (contoh untuk kelompok 1)
a.       Setting IP # ifconfig eth0 10.10.1.2 netmask 255.255.255.0 
b.      Tambahkan Gateway untuk PC Client # route add default gw 10.10.1.1

4.       Lakukan test konektifitas
ping ke PC router (10.10.x.1) ping ke IP Server (192.168.50.1)  

5.       Lakukan koneksi di sisi client untuk mengakses web dan ftp dari browser, dan pastikan berhasil.
Contoh :
      http://www.eepis-its.edu      ftp://fileserver.eepis-its.edu



6.       Jalankan rule firewall sebagai berikut (blocking ping) :
a.          Blok PC Client supaya tidak bisa ping
# iptables –A FORWARD –s 10.10.1.2/24 –d 0/0 –p icmp -j REJECT
b.         Lihat rule di iptables, catat hasilnya
# iptables –nvL
c.          Cek dengan melakukan ping, catat hasilnya, mana yang berhasil di blok
# ping ke PC router (10.10.x.1)
# ping ke IP Server (192.168.50.1)  
d.         Hapus rule di iptables # iptables –F
e.          Blok PC Client supaya tidak bisa ping dgn perintah berikut (INPUT)
# iptables –A INPUT –s 10.10.1.2/24 –d 0/0 –p icmp -j REJECT
f.           Ulangi langkah b-d, catat dan bandingkan hasilnya dengan poin 6c.
g.         Blok PC Client supaya tidak bisa ping dgn perintah berikut (DROP)
# iptables –A FORWARD –s 10.10.1.2/24 –d 0/0 –p icmp -j DROP
h.         Ulangi langkah b-d, catat dan bandingkan hasilnya dengan poin 6c.
i.           Apa kesimpulan anda tentang penggunaan perintah INPUT, FORWARD, REJECT        dan DROP. Bagaimana agar bisa dilakukan bloking terhadap semua IP di poin 6c.

7.       Jalankan rule firewall sebagai berikut (blocking web dan ftp) :
a.       Blok PC Client supaya tidak bisa mengakses web dan ftp di poin 5, cek kembali koneksi di poin 5 dan pastikan berhasil.
# iptables –A FORWARD –s 10.10.1.2/24 –p tcp –m multiport --dport 
  21,80 -j REJECT
b.      Lihat rule di iptables, catat hasilnya # iptables –nvL
c.       Cek koneksi, catat hasilnya http://www.eepis-its.edu ftp://fileserver.eepis-its.edu 
8.       Lakukan langkah berikut dan analisalah :
a.       Install ftp server dan telnet pada sisi PC Router (firewall) => 10.10.1.1 # apt-get install proftpd telnetd
b.      Lakukan tes koneksi dari client ke PC Router dan pastikan berhasil
# telnet 10.10.1.1
# ftp 10.10.1.1
c.       Buatlah rule firewall sebagai berikut, dan ujilah rule anda tsb :
        Drop akses dari client ke ftp server
        Accept akses dari client ke telnet  
9.       Bloking dengan menggunakan MAC address
a.       Hapus rule sebelumnya : # iptables -F
b.      Catat MAC address di sisi client, dan lakukan perintah berikut di PC Router
(firewall)
# iptables -A FORWARD -m mac --mac-source 00:30:18:AC:14:41-d 
  0/0 -j REJECT
c.       Ujilah rule diatas, dan catat hasilnya.



10.   Simpan konfigurasi firewall secara permanen 
a.       Konfigurasi sbb:
# iptables-save > /root/data.fw
# vim /etc/network/interfaces
 post-up iptables-restore < /root/data.fw 

NB: Tambahkan perintah diatas setelah line eth0

b.      Restart komputer :
                            # reboot       
c.       Cek hasilnya dan catat hasilnya : # iptables -nvL


LAPORAN RESMI

Daftar Pertanyaan 
1.      Berikan kesimpulan hasil praktikum yang anda lakukan.
2.      Apa saja command iptables yang dibuat jika kita hanya memperbolehkan ssh yang jalan di jaringan ?
3.      Bagaimana jika yang diperbolehkan adalah ssh, web dan email dan yang lainnya ditolak ?

 LEMBAR ANALISA


Praktikum Network Security  (Konfigurasi Firewall - iptables) Tanggal Praktikum  : 
Kelas                           :
Nama dan NRP           :

A.  Gambar topologi jaringan beserta dengan IP Addressnya

B.   Tes koneksi jaringan untuk poin 4 dan 5

C.   Catat dan analisa rule firewall <INPUT, FORWARD, DROP, REJECT> untuk blocking ping 
     (poin 6)

D.  Catat dan analisa rule firewall untuk blocking web dan ftp (poin 7)

E.   Tuliskan rule firewall pada poin 8

F.    Catat dan analisa rule firewall untuk block berdasarkan MAC address (poin 9)







Tuesday, July 21, 2026

4 Basis Data (Arsitektur Aplikasi Sistem Basis Data)

Definisi Arsitektur Aplikasi Basis Data
Arsitektur aplikasi basis data menjelaskan rancangan dasar aplikasi basis data yang akan dibangun. Arsitektur basis data menggambarkan diagram interaksi antara komponen-komponen penyusun sistem manajemen basis data. Komponen-komponen tersebut meliputi perangkat hardware, software, jaringan komputer, dan pengguna. Berdasarkan arsitekturnya aplikasi sistem manajemen basis data (SMBD) dibedakan menjadi beberapa macam antara lain adalah sebagai berikut:
  • SMBD terpusat (CDBMS). Pada sistem ini semua proses utama dan fungsi sistem manajemen basis data seperti user application programs dan user interface programs berada secara terpusat di satu komputer berkecepatan dan kapasitas tinggi (main frame). Pengguna mengakses basis data menggunakan terminal komputer.
  • SMBD terdistribusi (DDBMS) Pada sistem ini data disimpan pada beberapa tempat (site), setiap tempat diatur dengan suatu DBMS yang dapat berjalan secara independent. Perangkat lunak dalam sistem ini akan mengatur pendistribusian data secara transparan.
  • SMBD paralel. Sistem manajemen basis data ini menggunakan beberapa prosesor dan disk yang dirancang untuk dijalankan secara paralel dan simultan. Sistem ini digunakan untuk memperbaiki kinerja dari DBMS

Dari tiga ragam jenis SMBD diatas terdapat beberapa model arsitektur aplikasi SMBD. Perkembangan Arsitektur SMBD cukup pesat dan cepat dengan mengikuti trend yang sejalan dengan kemajuan arsitektur sistem komputer serta teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa ragam jenis
arsitektur aplikasi SMBD tersebut antar lain ialah: 
1) Arsitektur Teleprocessing. 
2) Arsitektur File-Server Architecture 
3) Arsitektur Singgle tier. 
4) Arsitektur two-tier client/server. 
5) Arsitektur three-tier client/server. 
6) Arsitektur N-tier client/server. 
7) Paralel arsitektur

Centralized Database manajemen Sistem (CDBMS)
Pada sistem ini semua proses utama dan fungsi sistem manajemen basis data seperti user application programs dan user interface programs berada secara terpusat di satu komputer berkecepatan dan kapasitas tinggi (main frame). Pengguna mengakses basis data menggunakan terminal komputer. Pada arsitektur ini digunakan komputer main frame yg menyediakan semua proses utama seperti fungsinya pada DBMS (user application programs & user interface programs). Bentuk arsitektur terpusat ini menggambarkan pengaksesan terminal-terminal komputer (client) pada komputer server, berupa display informasi dan kontrol saja, karena pada terminal komputer tidak memungkinkan memiliki resource yang lebih.

Seiring perkembangan teknologi dan turunnya harga hardware, banyak terminal user digantikan dengan PC, akan tetapi DBMS masih ditempatkan terpusat (Application program execution & user interface processing ditempatkan pada satu mesin). Gambar dibawah ini menjelaskan Arsitektur Centralized Database manajemen Sistem (CDBMS)

Gambar Arsitektur CDBMS

Distributed Database manajemen Sistem (DDBMS)
DDBMS memiliki satu logikal basis data yang dibagi ke dalam beberapa fragment. Dimana setiap fragment disimpan pada satu atau lebih komputer dibawah kontrol dari DBMS yang terpisah dengan mengkoneksi komputer menggunakan jaringan komunikasi. DDBMS memungkinkan direplikasi dan alokasi penyimpanan disembunyikan sehingga tidak diketahui pengguna. Pada sistem ini data disimpan pada beberapa tempat (site), setiap tempat diatur dengan suatu DBMS yang dapat berjalan secara independent.

Perangkat lunak dalam sistem ini akan mengatur pendistribusian data secara transparan. Setiap site memiliki kemampuan untuk mengakses permintaan pengguna pada data lokal dan juga mampu untuk memproses data yang disimpan pada komputer lain yang terhubung dengan jaringan. Pengguna mengakses basis data terdistribusi dengan menggunakan dua aplikasi yaitu aplikasi lokal dan aplikasi global,

Gambar Arsitektur DDBMS

Tigal hal penting yang harus terdapat pada basis data terdistribusi adalah:
  • Independensi data terdistribusi: pemakai tidak perlu mengetahui dimana data berada (merupakan pengembangan prinsip independensi data fisik dan logika).
  • Transaksi terdistribusi yang atomic: pemakai dapat menulis transaksi yang mengakses dan mengubah data pada beberapa tempat seperti mengakses transaksi.
  • Transparansi basis data terdistribusi agar terlihat sistem ini seperti basis data tersentralisasi. Hal Ini mengacu pada prinsip dasar dari DBMS. Transparansi memberikan fungsional yang baik untuk pengguna tetapi mengakibatkan banyak permasalahan yang timbul dan harus diatasi oleh DDBMS.
Terdapat dua tipe basis data terdistribusi yaitu
  • Homogen: yaitu sistem dimana setiap tempat menjalankan tipe DBMS yang sama.
  • Heterogen: yaitu sistem dimana setiap tempat yang berbeda menjalankan DBMS yang berbeda, baik Relational DBMS (RDBMS) atau non relational DBMS.
Client-Server Architecture
Konsep arsitektur client/server mengasumsikan sebuah kerangka dasar (framework) yang terdiri atas banyak PC yang terhubung melalui LAN beserta tipe-tipe jaringan komputer lainnya. Suatu Client adalah mesin user yang menyediakan kemampuan user interface dan local processing.

Suatu Server adalah mesin yang menyediakan berbagai service ke mesin client (file access, printing, archiving, or database access). Ada kemungkinan suatu mesin hanya menginstall software client saja, yang lain software server, atau bahkan keduanya pada satu mesin (seperti pada gambar physical client/server sebelumnya). Dua arsitektur DBMS yang mendasari framework client/server ialah two-tier client/server dan three-tier client/server.

Gambar Arsitektur Basis Data Clent Server

Tugas dari komputer Client adalah: 
1) Mengatur user Interface. 
2) Menerima dan memeriksa syntax input dari user. 
3) Membangun (Generates) permintaan DB dan mengirimkannya ke server.
4) Memberikan respon balik ke user. 

Sedangkan tugas dari komputer server adalah: 
1) Menerima & memroses permintaan DB dari client. 
2) Memeriksa autorisasi. 
3) Menjamin batasan integritas data. 
4) Menampilkan queri/proses update dan mengirimkannya ke user. 
5) Memelihara System Catalog. 
6) Menyediakan kontrol recovery. 
7) Menyediakan akses basis data yang akurat. 

Kelebihan dari sistem arsitektur client-server ini ialah:
1. Client bertanggung jawab dalam mengelola antar muka pemakai (mencakup logika penyajian data, logika pemrosesan data, logika aturan bisnis).
2. Database server bertanggung jawab pada penyimpanan, pengaksesan, dan pemrosesan database.
3. Otentikasi pemakai, pemeriksaan integrasi, pemeliharaan data dictionary dilakukan pada database server.
4. Akses yang lebih luas terhadap database.
5. Meningkatkan performa dan konsistensi.
6. Pengurangan biaya hardware, biaya komunikasi dan beban jaringan

Pada database client/server, saat pengaksesan DBMS dibutuhkan: program membuka koneksi ke DBMS server, sekali koneksi terbuat maka program client dapat berkomunikasi dengan DBMS. Contoh: ODBC (Open Database Connectivity) yang menyediakan API (Application Programming Interface), JDBC, yg digunakan program client Java utk akses ke DBMS.

Interaksi antara client dan server selama pemrosesan query SQL adalah sebagai berikut:
1. Client melakukan parsing query pemakai dan memecahnya ke dalam sejumlah query independent untuk setiap tempat. Setiap query tersebut dikirim ke server yang sesuai.
2. Setiap server memproses query lokal dan mengirim relasi hasil ke client.
3. Client mengkombinasikan hasil sub query untuk memproduksi hasil dari query asal yang dikirim.

Pada pendekatan tersebut Server SQL: juga disebut transaction server (database processor (DP) / back-end machine / DBMS), sedangkan Client: disebut application processor (AP) atau front-end machine.

Gambar Arsitektur Two Tier Client Server

Three Tier Architecture merupakan inovasi dari arsitektur client-server. Pada arsitektur Three-tier ini terdapat application server yang berdiri di antara client dan database server. Contoh dari application server adalah IIS sebagainya. (Internet Information Services), WebSphere, dan Arsitektur ini memisahkan antara logika aplikasi dari manajemen data, yang meliputi:
1. Presentation Tier (Client) Berisi interface natural yang dibutuhkan user untuk membuat request, menyediakan input dan melihat hasil. (GUI)
2. Middle Tier (Application Layer/Web Server) Berisi logika aplikasi untuk dieksekusi, berbagai macam kode program (C++, Java, dll) sebagai proses bisnis logic yang kompleks. (Application Programs, Web Pages).
3. Data Management Tier (Database Server) Berisi DBMS.

Gambar Srsitektur Theree Tier Client Server 


Arsitektur N-tier atau multi tier
Istilah arsitektur ini muncul karena dalam implementasi aplikasi basis data dimungkinkan suatu aristektur aplikasi terdiri dari banyak tier. Salah satu contoh aplikasi basis data yang menggunakan arsitektur ini ialah situs amazon .com, dimana pelanggan internet dapat memesan buku secara online. Pelanggan dapat melihat katalog buku amazon.com yang sebenarnya ada pada database amazon.com. Jika pelanggan ingin memesan salah satu buku, maka pelanggan tersebut perlu memasukkan informasi mengenai dirinya dan yang terlebih penting adalah data mengenai kartu kreditnya. Untuk dapat memesan buku data kartu kredit pelanggan tersebut harus divalidasi terlebih dahulu: seperti kode PIN, masa berlaku kartu, limit kredit. Setelah dinyatakan valid maka pelanggan dapat melakukan transaksi pemesanan buku.

Arsitektur N Tier Client Server

Contoh Arsitektur amazon.com



Materi Selanjutnya
Menentukan Entitas dan Atribut


Materi Sebelumya
Arsiterkut Sistem Basis Data